
Penyakit kanker payudara yang dideritanya selama delapan tahun terakhir semakin mengganas. Dokter pun tak memberi banyak harapan. Namun hal ini tidak membuat Ibu Mulayani berputus asa dengan rahmat dan pertolongan Allah.
Matanya sempat menerawang entah ke mana. Kanker payudara ganas terlihat jelas sudah menggerogoti tubuhnya hingga kurus kering. Namun itu semua tak mengurangi tekad kuat ibu Mulyani, penderita kanker itu, untuk terus optimis menggapai kesembuhan yang diinginkan. ”Terima kasih atas kunjungannya ya Pak,” ujarnya lirih sambil mencoba kuat tetap tersenyum saat menyambut tim BAZNAS yang berkunjung menjenguk di Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa- BAZNAS (RS MASK) awal Mei lalu.
Sudah beberapa minggu Ibu berusia empat puluh tahun ini menginap di RS MASK ditemani oleh sang suami tercinta, Edi Sudrajat (48), sambil menunggu giliran perawatan rawat inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. ”Sebelum kami mendapat tempat di sini, kami tidur di mana saja di RSCM,” ujarnya. ”Terkadang di depan lab, atau di lorong-lorong sebelum akhirnya diminta pergi oleh petugas SATPAM.” Menurut Edi, ini disebabkan kamar-kamar RSCM sedang penuh dengan pasien-pasien terdahulu yang juga sama-sama membutuhkan perawatan intensif. ”Untung saja Baznas memberikan bantuan sehingga kami dapat mendapat tempat tidur yang layak di RS MASK, sambil menunggu giliran perawatan di RSCM” ujarnya penuh syukur
Safari Rumah Sakit
Penderitaan ibu Mulyani sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu, sekitar tahun 2001 ”Mulanya, saya hanya merasakan adanya benjolan kecil di payudara saya yang kemudian saya periksakan ke puskesmas,” jelas Ibu enam anak ini. ”Namun menurut petugas kesehatan saat itu benjolan tersebut hanya benjolan biasa yang tidak berbahaya.” Tahun demi tahun berjalan, benjolan itu bukan semakin mengecil namun semakin membesar. ”Kami bahkan sudah mencoba berobat ke pengobatan alternatif namun tidak membuahkan hasil,” kenang Edi. Menurutnya, mulai pada 2002, Mulyani sang istri mulai sering merasakan sakit yang tak terhingga pada waktu-waktu tertentu. Keterbatasan ekonomi dari keluarga ini mengingat Edi, sang suami hanya berprofesi sebagai penjual permen asongan, membuat mereka tidak dapat bergerak banyak untuk mendapatkan pengobatan terbaik. Meski demikian, pasangan ini tak berputus asa untuk terus mencari pengobatan yang tepat bagi penyakit yang diderita Mulyani.
Pada Januari 2006, berbekal surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan surat rujukan dari puskesmas, Edi membawa Mulyani menjaani perawatan di Rumah Sakit Daerah (RSUD) Karawang. Tiga pekan kemudian, karena keterbatasan alat dan tenaga medis, maka Mulyani dipindahkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
”Sampai di sini pengobatan ditunda oleh dokter karena kondisi istri saya yang sedang mengandung anak ke-6 kami,” jelas Edi. Pasca melahirkan, Mulyani kembali menjalani pengobatan ke RSUD Karawang sebelum kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Berhubung penuhnya kamar rawat inap di RSCM, maka Mulyani diterima hanya sbeagai pasien rawat jalan.
”Hal ini memberatkan kami karena ongkos pulang pergi perjalanan dari Karawang (tempat kontrakan Edi dan keluarga) ke RSCM Jakarta cukup besar,” ujar Edi lirih. Untuk itu, mereka memutuskan untuk menginap di lorong-lorong RSCM sambil menunggu kepastian mendapatkan kamar tempat dirawat. ”Alhamdulillah, Baznas memberikan kami tempat rawat inap sementara di RS-MASK sebelum mendapatkan tempat di RSCM,” jelas Edi. Alhamdulillah, saat tulisan ini diturunkan, Mulyani sudah mendapatkan kamar rawat inap di RSCM.
Biaya Besar
Seperti layaknya bedah kanker pada umumnya, bedah kanker ibu Mulyani membutuhkan biaya besar. Menurut koordinator karitas BAZNAS, Sugeng Riyanto, biaya tindakan operasi maupun kehidupan sehari-hari keluarga ini memang besar. ”Dari identifikasi awal yang kami terima, untuk tindakan bedah tumor saja diperlukan biaya kurang lebih Rp45 juta, belum termasuk biaya keseharian makan-minum dan akomodasi Pak Edi beserta ke-6 anaknya,” jelas Sugeng. Bahkan, dikarenakan pengobatan yang memerlukan waktu jangka panjang dan biaya besar ini, keluarga Edi harus kehilangan kontrakan kecil mereka di kawasan Kota Baru, Karawang, Jawa Barat karena tak mampu membayar kontrakan tersebut. ”Inilah sebabnya, kami mengajak semua pihak, baik PEMDA maupun masyarakat umum bersama-sama BAZNAS untuk mernolong meringkankan penderitaan mereka,” ajak Sugeng.
Insya Allah, dengan uluran tangan dan bantuan dari para muzakki BAZNAS maupun pihak-pihak lain yang peduli, Ibu Mulyani beserta keluarganya dapat tertolong. Dan tentunya seperti yang diucapkan lirih oleh ibu Mulyani, ”Jangan berputus asa atas ramat Allah.” Insya Allah. (ful)
|