
Kian hari, Muara Angke bukannya berkembang menjadi kawasan pelabuhan yang modern, tapi justru semakin tak tertata. Bau dan sampah adalah hal yang sangat mudah ditemukan di sana . Sulit untuk betah berlama-lama berada di kawasan tersebut. Bau amis setengah busuk langsung menyergap tanpa ampun menerjang indera penciuman setiap orang yang berlalu-lalang.Tak perlu menunggu terlalu lama, seluruh badan telah terasuki bau tak sedap. Baju pun langsung lepek, apalagi terik mentari sangat kejam menyengat kulit. Kondisi memprihatinkan semakin kentara terlihat ketika memasuki pemukiman di kampung nelayan. Di Blok Empang Kampung nelayan tersebut, rumah-rumah penduduk yang semi permanen serta terbuat dari triplek itu berdiri di atas rawa keruh kehitaman. Jalan-jalan setapaknya merupakan rawa yang diuruk dengan cangkang-cangkang kerang. Harus memakai alas kaki yang tebal agar tidak tergores tajamnya cangkang kerang ketika melintas di atasnya. Kehidupan para warganya sebagai nelayan yang tiap hari bergelut dengan ganasnya debur ombak menyebabkan mereka menjadi orang-orang yang keras. Pergumulan mereka untuk bertahan dari kerasnya gelombang samudera dan panasnya udara pesisir Muara Angke adalah sebuah episode kehidupan yang tak ada habisnya untuk digali. Seperti terlihat pada Selasa ( 22/6) di pesisir pantai kampung nelayan Muara Angke, banyaknya ibu-ibu yang sedang mengupas kerang ijo dari cangkangnya sebagai aktivitas rutinnya. Tak terkecuali Ningsih ( 45 tahun) beserta suaminya sedang khusyuk menekuni mata pencaharian yang bisa menopang ekonomi keluarganya. “ Tiap pagi saya harus kesini untuk mengupas kerang dari cangkangnya karena ini adalah pekerjaan rutin saya. Kalau ga begini, anak-anak mau di kasih makan apa? “ keluh Ningsih. Maklum, 1 drum jasa pengupasan cangkang kerang hanya dihargai Rp 10.000. Biasanya 1 drum dikerjakan oleh 3 orang dan dalam sehari maksimal 2 drum yang bisa dikerjakan. Wajar, jika dengan penghasilan per hari Rp 7.500/ orang harus bertahan hidup. Karenanya tak sedikit anggotan keluarganya yang dilibatkan dalam aktivitas ini. Ditengah perkampungan nelayan tersebutlah, Abdul Karim beserta rekan-rekannya mendirikan Yayasan Pewaris Negeri untuk membantu 1500 Kepala Keluarga di kelurahan Pluit Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara utamanya dibidang pendidikan. Yayasan yang berdiri sejak 2003 lalu , menfokuskan diri membantu warga di kampung nelayan dibidang pendidikan. Saat ini telah berdiri sekolah Taman Kanak Kanak yang bisa digunakan oleh warga sekitar. “ Yang mendaftar kesini lebih dari 200 anak, tetapi kami hanya menampung tidak lebih dari 80 orang karena tempat yang sangat terbatas. Saat ini yang duduk di TK A ada 25 orang , TK B 23 orang dan 32 orang lainnya ada di play group” jelas Karim. Meski awalnya sekolah tersebut gratis bagi masyarakat kampung nelayan, tapi dengan keterbatasan dana, awal Maret 2010, Yayasan Pewaris Negeri memungut Rp 1000 per siswa yang hadir setiap harinya. Uang tesebut menurut Karim akan dialokasikan untuk honor 4 orang guru yang mengajar dan untuk keperluan prasarana belajar siswa. Dengan menjalin kerjasama dengan BAZNAS dalam hal operasional sekolah tersebut, diharapkan banyak masyarakat di kampung nelayan yang terbantu khususnya di bidang pendidikan.
Syaiful Anwar
|
Tulis Komentar