Desa Ciamande, Caringin Kabupaten Bogor bukan hanya terkenal dengan pencak silat dan ahli patah tulang saja. Tapi sekarang desa Cimande akan dijadikan sentra ternak domba terbesar di Jawa Barat. Obsesi itu muncul dari Haji Bunyamin yang diamanahkan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) untuk mengolah 520 bibit domba.
Untuk mewujudkan obsesi itu pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei 1956 memberi kesempatan warga memelihara enam ekor domba. Bila sudah cukup umur, lima domba diambil oleh Bunyamin, dan satu ekor lagi menjadi milik warga. "Mereka boleh memilih domba yang mereka sukai sehingga usaha ini menjadi milik bersama dan untuk kemajuan bersama, " ujar Bunyamin yang ditemui di kediamannya yang asri Kamis ( 10/6).
Dengan lahan sebesar 3.414 m2 yang terdiri dari bangunan kandang seluas 270 m2 dan mess karyawan seluas 75 m2, bisa menampung 520 bibit domba parahyangan. Menurut Bunyamin, dari 520 bibit kambing yang diberikan BAZNAS pada tahap awal sejak 2008, dapat berpotensi menghasilkan laba bersih sebesar Rp325.000,00 per ekor domba sehingga hasilnya bisa dibagikan kepada 120 orang mustahiq zakat ditambah 12 orang pekerja di sentral ternak yang juga merupakan mustahiq zakat.
“ Uang zakat yang dikelola BAZNAS melalui ternak kambing ini Insyaallah bisa lebih produktif dan sangat membantu para warga miskin disekitar Cimande. Selain itu, kedepan saya berharap, keuntungan dari ternak kambing ini akan di gunakan untuk program pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin sekitar Cimande” ungkap Bunyamin.
Mengingat prospek ternak kambing yang sangat menjanjikan, Bunyamin berkeinginan ingin membuat diklat untuk warga sekitar agar warga bisa diberi pengetahuan dan wawasan tentang tata cara beternak kambing yang baik. Sehingga, kedepan, setiap warga yang sudah dibekali ilmu dan pengetahuan lewat diklat tersebut dapat menjalankan bisnis ternak kambing ini dirumahnya masing-masing.
Kambing di sini menurut Bunyamin tidak asal pelihara. Setiap pekan, kambing selalu di mandikan dan setiap bulan, bulu-bulu kambing yang sudah panjang di cukur agar kambing tetap bersih. Maka tak heran, jika melihat kandang kambing di desa ternak Cimande ini, hidung kita tidak menyengat bau kambing.
Banyaknya pepohonan sekitar area kandang kambing itu membuat udara semakin sejuk. Memang , untuk memaksimalkan lahan, Bunyamin menjadikan areal sekitar peternakan dikelilingi oleh lahan kebun singkong dan padang rumput yang dibudidayakan dan dikelola sempurna sebagai pakan bagi “penghuni” peternakan.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.
Di lokasi tersebut terlihat areal kandang yang terintegrasi menjadi 2 usaha ternak yaitu usaha pembibitan dan penggemukkan domba. Kandang pertama, terdiri dari bibit domba garut dan domba ekor tipis (DET) unggul dan berkualitas yang dijadikan sebagai bibit pejantan dalam pembibitan. Kandang kedua terdapat ratusan ekor domba untuk digemukkan untuk keperluan konsumsi rutin, aqiqah, qurban ataupun untuk bakalan domba. Sedangkan kandang ketiga adalah kandang pembibitan.
Saat ini Bunyamin sedang menyiapkan kandang untuk anak-anak kambing yang sudah hampir setiap bulan lebih dari 30 ekor hari. “ Agar perkembangannya maksimal, harus ditambah 1 kandang lagi khusus anak-anak kambing yang baru lahir mengingat hampir tiap bulan lahir lebih dari 30 ekor anak kambing di sini” ujar Bunyamin.
Banyak pelajaran yang bisa dikembangkan usai mengunjungi desa ternak makmur itu. Setidaknya, pengolahan kambing yang dilakukan Haji Bunyamin bisa dijadikan contoh sehingga masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat dari program yang telah digulirkan BAZNAS sejak 2008 lalu. Syaiful Anwar
Tulis Komentar